Jumat, 09 September 2011

Masjid Hijau


Namanya Masjid Al Mubaraq. Letaknya di pinggir kota kecil tempatku tinggal. Masjid itu adalah saksi bisu dimana Ani dan Budi bertemu. Ani ketika itu adalah gadis remaja yang baru lulus SMU, begitu juga Budi. Mereka berdua tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena kesulitan ekonomi. Masalah yang klasik, tapi memang mereka mengalaminya. Ani dan Budi memiliki perasaan yang sama, sehingga mereka memutuskan untuk memulai suatu hubungan. Waktu mereka di habiskan bersama di kota kecil itu, termasuk di Masjid Hijau. Tak lama setelah lulus SMU, Budi mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor. Dia hanya sebagai kuli bangunan disana. Meski demikian Budi bangga dengan pekerjaannya, begitupun Ani. Karena mereka berpikir itu adalah perusahaan yang sangat besar. Ani masih menganggur, dia mencoba mencari pekerjaan dimana-mana, namun belum berhasil.

Setiap sore menjelang maghrib, Ani selalu menunggu Budi pulang bekerja di depan Masjid Hijau. Kemudian mereka sholat berjamaah bersama dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Kejadian seperti itu berulang hingga 2 tahun kemudian.

Budi mulai jarang pulang menjelang maghrib, alasannya karena ia dipercaya atasannya untuk menjadi mandor di sebuah proyek. Namun Ani  tetap sholat maghrib di Masjid Hijau meski sendiri. Ani sekarang bekerja sebagai kepala pelayan restoran di kotanya. Ani termasuk orang yang rajin sehingga pemilik restoran menaikkan jabatannya.

Pada suatu pagi dalam perjalanan ke tempatnya bekerja, Ani melihat anak kecil berseragam SD sedang berdiri di depan Masjid Hijau. Tak lama kemudian dia meletakkan selembar kertas di selempitan dinding masjid yang rompal karena usia. Karena penasaran Ani mendekati masjid tersebut dan mengambil secarik kertas itu. Isinya, “Ya Allah. Nama saya Yanuar, kelas 2 SDN Amerta.  Adik saya masih kecil. Ibu saya sedang sakit. Tangan kirinya tidak bisa di angkat keatas. Tolong sembuhkan Ibu saya Ya Allah. Kasian adik saya setiap hari menangis minta susu. Ya Allah, kata Ibu, Bapak tidak bisa pulang karena tidak tahu jalan. Tolong bapak saya juga, kasih tau Bapak jalan pulang agar bisa menolong Ibu. Terima kasih Ya Allah.” Ani mengembalikan kertas itu kembali ketempatnya, lalu ia merogoh kantongnya. Ada selembar Rp.20.000 disana, lalu di selipkan uang Rp.20.000 tersebut di lipatan kertas tadi.

Lima hari kemudian, ia melihat anak itu kembali meletakkan secarik kertas di depan masjid. Ani kembali membacanya, “Ya Allah. Ibu sudah kuat berjalan dan buat susu untuk adik. Uang Rp.20.000 nya kemarin saya pakai untuk ke puskesmas di bantu tetangga. Kata tetangga saya, biaya gratis karena kami orang miskin, hanya bayar Rp.15.000 untuk asminiftratif. Tapi Bapak kenapa belum pulang? Apa Allah sudah kasih tahu jalannya? Saya, adik, dan Ibu menunggu Bapak. Terimakasih Ya Allah.”
Yanuar yang polos. Ani tersenyum membaca kata administrasi yang ia yakin Yanuar tidak mengerti artinya sehingga ia kesulitan menuliskannya.

Tiga tahun berlalu, Ani memutuskan untuk membuka rumah makan sendiri. Ilmu yang didapat selama bekerja di restoran dirasa telah cukup. Bosnya pun mengijinkan Ani membuka usaha sendiri. Bos Ani orang yang baik, keturunan Tionghoa yang menjadi muallaf sejak 6 tahun lalu. Dan dua tahun kemudian usaha Ani semakin meluas. Ia punya 3 restoran yang sangat dikenal di masyarakat. Ia sudah tidak pernah lagi menunggu di depan Masjid Hijau lagi, karena ia memboyong keluarganya untuk pindah ke pusat kota agar dekat dengan usahanya.  Sampai suatu sore ketika selesai meeting dengan karyawannya untuk membuka cabang baru, salah satu karyawannya yang bernama Mimin berkata, “Bu Ani, maaf sebelumnya, saya melihat Ibu sekarang sudah sukses. Saya paham benar bagaimana Ibu berjuang dari nol. Namun, maaf sebelumnya ya Bu, apa ibu tidak berkeinginan untuk berumah tangga? Saya rasa banyak rekan bisnis Ibu yang menyukai Ibu. Maaf sebelumnya ya Bu, bila memang menyinggung perasaan Ibu”. Ani tersentak, namun dengan bijak ia berkata, “Bukannya saya tidak memikirkan, saya toh juga berusaha menjaga perasaan rekan bisnis yang seperti katamu, menyukai saya, agar tidak tersakiti perasaannya.  Yang jelas saya tetap berikhtiyar dan memohon petunjuk pada Allah. Terima kasih ya, Min.”

Sesampainya dirumah, benak Ani kembali kepada masa lalu. Masjid Hijau. Apa kabar Budi? Setahun yang lalu ia sempat mendapat kabar bahwa Budi sudah menjadi kepala proyek, dan sering pergi ke luar pulau dan bahkan keluar negeri. Ani tersenyum sambil bergumam, “Sudah sukses ternyata kau Bud, semoga kau tetap rendah hati seperti Budi yang kukenal dulu.”

Minggu siang, Ani berjalan menyusuri rumah dimana dulu ia pernah tinggal. Melewati depan Masjid Hijau, dan menyempatkan untuk sholat dzuhur disana. Setelah selesai sholat, ia kembali teringat akan bocah kecil bernama Yanuar. Apa kabarnya dia? Apakah Bapaknya sudah kembali ke rumah? Lama Ani duduk-duduk di halaman masjid, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, tersenyum, sambil sekali ia menitikkan air mata. Kemudian Ani mengambil pena dan secarik kertas di dalam tasnya. Menuliskan sesuatu disana. Berjalan menuju kedepan masjid, lalu meletakkan secarik kertas tersebut di sela-sela tembok yang masih rompal tersebut. Dan kemudian ia berjalan ke mobilnya untuk kembali pulang.


-Fe-
Rabu, 17 Agustus 2011
16.30

Welcome ^^

Assalamualaikum,,, Selamat (selalu) pagi,

Perkenankan saya selaku pemilik blog ini, melakukan perkenalan terlebih dahulu.
Nama saya panjang, terdiri dari 10 suku kata, namun kalian cukup menyapaku "Fe" bila bertemu di arisan RT/RW. Usia saya tidak lebih dari 29,5 tahun, tidak kurang dari 25,6 tahun. Saya bekerja di sebuah universitas swasta terbaik di Jawa Timur. Dan saya pun lulusan dari universitas tersebut dengan titel, Bachelor of Psychology, kalo istilah kerennya S.Psi.

Tulisan di blog saya, akan saya jamin mudah di cerna, di baca, tidak menimbulkan katarak, dan insyaAllah bisa berguna bagi pembaca. Bila kalian merasa tulisan saya tidak berguna, setidaknya saya mengucapkan Terima Kasih karena sudah sempat mengintip, membaca sedikit, atau bahkan membaca seluruh isi blog ini, meskipun kemudian mengatakan bahwa blog saya ini tidak berguna.

Saya membuat blog ini, tujuan utamanya adalah belajar menulis. Bukan menulis huruf A B C D, tapi menulis dengan menggunakan tata bahasa, dan kode etik menulis yang baik dan benar. Tapi yaaah, namanya juga saya, pasti nanti tulisannya ada juga beberapa yang mengandung "aneh". Apapun lah, yang penting saya akan sangat berterima kasih sekali bila kalian merasa blog saya ini berguna, meski hanya 1 baris.

Demikian sedikit perkenalan (basa-basi) dari saya.
Wassalamualaikum wr wb.


Regards,
Fe