Namanya Masjid Al Mubaraq. Letaknya di pinggir kota kecil tempatku tinggal. Masjid itu adalah saksi bisu dimana Ani dan Budi bertemu. Ani ketika itu adalah gadis remaja yang baru lulus SMU, begitu juga Budi. Mereka berdua tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena kesulitan ekonomi. Masalah yang klasik, tapi memang mereka mengalaminya. Ani dan Budi memiliki perasaan yang sama, sehingga mereka memutuskan untuk memulai suatu hubungan. Waktu mereka di habiskan bersama di kota kecil itu, termasuk di Masjid Hijau. Tak lama setelah lulus SMU, Budi mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor. Dia hanya sebagai kuli bangunan disana. Meski demikian Budi bangga dengan pekerjaannya, begitupun Ani. Karena mereka berpikir itu adalah perusahaan yang sangat besar. Ani masih menganggur, dia mencoba mencari pekerjaan dimana-mana, namun belum berhasil.
Setiap sore menjelang maghrib, Ani selalu menunggu Budi pulang bekerja di depan Masjid Hijau. Kemudian mereka sholat berjamaah bersama dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Kejadian seperti itu berulang hingga 2 tahun kemudian.
Budi mulai jarang pulang menjelang maghrib, alasannya karena ia dipercaya atasannya untuk menjadi mandor di sebuah proyek. Namun Ani tetap sholat maghrib di Masjid Hijau meski sendiri. Ani sekarang bekerja sebagai kepala pelayan restoran di kotanya. Ani termasuk orang yang rajin sehingga pemilik restoran menaikkan jabatannya.
Pada suatu pagi dalam perjalanan ke tempatnya bekerja, Ani melihat anak kecil berseragam SD sedang berdiri di depan Masjid Hijau. Tak lama kemudian dia meletakkan selembar kertas di selempitan dinding masjid yang rompal karena usia. Karena penasaran Ani mendekati masjid tersebut dan mengambil secarik kertas itu. Isinya, “Ya Allah. Nama saya Yanuar, kelas 2 SDN Amerta. Adik saya masih kecil. Ibu saya sedang sakit. Tangan kirinya tidak bisa di angkat keatas. Tolong sembuhkan Ibu saya Ya Allah. Kasian adik saya setiap hari menangis minta susu. Ya Allah, kata Ibu, Bapak tidak bisa pulang karena tidak tahu jalan. Tolong bapak saya juga, kasih tau Bapak jalan pulang agar bisa menolong Ibu. Terima kasih Ya Allah.” Ani mengembalikan kertas itu kembali ketempatnya, lalu ia merogoh kantongnya. Ada selembar Rp.20.000 disana, lalu di selipkan uang Rp.20.000 tersebut di lipatan kertas tadi.
Yanuar yang polos. Ani tersenyum membaca kata administrasi yang ia yakin Yanuar tidak mengerti artinya sehingga ia kesulitan menuliskannya.
Tiga tahun berlalu, Ani memutuskan untuk membuka rumah makan sendiri. Ilmu yang didapat selama bekerja di restoran dirasa telah cukup. Bosnya pun mengijinkan Ani membuka usaha sendiri. Bos Ani orang yang baik, keturunan Tionghoa yang menjadi muallaf sejak 6 tahun lalu. Dan dua tahun kemudian usaha Ani semakin meluas. Ia punya 3 restoran yang sangat dikenal di masyarakat. Ia sudah tidak pernah lagi menunggu di depan Masjid Hijau lagi, karena ia memboyong keluarganya untuk pindah ke pusat kota agar dekat dengan usahanya. Sampai suatu sore ketika selesai meeting dengan karyawannya untuk membuka cabang baru, salah satu karyawannya yang bernama Mimin berkata, “Bu Ani, maaf sebelumnya, saya melihat Ibu sekarang sudah sukses. Saya paham benar bagaimana Ibu berjuang dari nol. Namun, maaf sebelumnya ya Bu, apa ibu tidak berkeinginan untuk berumah tangga? Saya rasa banyak rekan bisnis Ibu yang menyukai Ibu. Maaf sebelumnya ya Bu, bila memang menyinggung perasaan Ibu”. Ani tersentak, namun dengan bijak ia berkata, “Bukannya saya tidak memikirkan, saya toh juga berusaha menjaga perasaan rekan bisnis yang seperti katamu, menyukai saya, agar tidak tersakiti perasaannya. Yang jelas saya tetap berikhtiyar dan memohon petunjuk pada Allah. Terima kasih ya, Min.”
Sesampainya dirumah, benak Ani kembali kepada masa lalu. Masjid Hijau. Apa kabar Budi? Setahun yang lalu ia sempat mendapat kabar bahwa Budi sudah menjadi kepala proyek, dan sering pergi ke luar pulau dan bahkan keluar negeri. Ani tersenyum sambil bergumam, “Sudah sukses ternyata kau Bud, semoga kau tetap rendah hati seperti Budi yang kukenal dulu.”
Minggu siang, Ani berjalan menyusuri rumah dimana dulu ia pernah tinggal. Melewati depan Masjid Hijau, dan menyempatkan untuk sholat dzuhur disana. Setelah selesai sholat, ia kembali teringat akan bocah kecil bernama Yanuar. Apa kabarnya dia? Apakah Bapaknya sudah kembali ke rumah? Lama Ani duduk-duduk di halaman masjid, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, tersenyum, sambil sekali ia menitikkan air mata. Kemudian Ani mengambil pena dan secarik kertas di dalam tasnya. Menuliskan sesuatu disana. Berjalan menuju kedepan masjid, lalu meletakkan secarik kertas tersebut di sela-sela tembok yang masih rompal tersebut. Dan kemudian ia berjalan ke mobilnya untuk kembali pulang.
-Fe-
Rabu, 17 Agustus 2011
16.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar