Jumat, 07 Desember 2012

Namanya Gendis



Anaknya tidak begitu cantik, terlihat angkuh, namun berani bertaruh kalau setiap mata yang melihat, selalu menoleh dua kali ketika berpapasan. Dia Berjalan sore itu hendak membeli tepung untuk Bundanya. Dan warung Bu Warti yang dipilihnya. "Minta tepung Cakra 2 kilo ya Bu", sambil dia mengeluarkan selembar lima puluh ribuan. "Ada lagi yang mau di beli, mbak Gendis?", tanya Bu Warti sambil memasukkan 2 kantong tepung ke dalam tas plastik hitam. "Emmm sepertinya itu dulu Bu. Ibu saya cuma mau bikin roti 1 loyang saja kok", jawab Gendis. "Salam buat Ibu ya mbak. Ini kembaliannya", kata Bu Warti sambil menyerahkan uang kembalian.

Gendis berjalan kembali ke rumahnya. Di jalan ia menyapa tukang bangunan yang dulu pernah memperluas teras rumahnya, "Pak Anom, sekali-kali pake batu bata warna ungu dong! Bosen kalau warna oren terus, hihihi". Pak Anom yang mendengarnya melambaikan tangan dan tertawa lebar, "Nanti saya buatkan khusus batako warna emas khusus buat mbak Gendis". Gendis hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalanan pulang. Di depan rumahnya terlihat pembantunya sedang memetik cabe merah keriting yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Buk Fatim nama pembantunya. 48 tahun, dengan 2 anak dan suami yang bekerja di sebuah pabrik peralatan listrik. "Loh, mbak Gendis darimana?", tanyanya. "Beli tepung buk. Waah sudah banyak yang merah ya buk cabenya? Nanti malam buatkan sambel mangga ya buk, enak itu", jawab Gendis. "Beres mbak. Kok mbak Gendis ndak nyuruh saya aja beli tepungnya?", tanya Buk Fatim. "Oh lagi pengen jalan-jalan sore aja buk. Sudah lama nggak muter komplek, ternyata banyak bangunan baru. Tadi aja saya baru tau kalau poskamling RT kita sudah di pasang TV kabel, dan kayaknya sih buk, tuh TV kabel mungkin aja chanelnya di pasang chanel bola semua. Atau malah di pilih chanel yang isinya cewek-cewek miskin baju. Hmm yang ada malah bikin maling-maling berkeliaran tuh, hihihi", ceritaku pada buk Fatim. "Saya masuk dulu buk, tepungnya sudah di tunggu Bunda", lanjut Gendis sambil membiarkan Buk Fatim memikirkan sesuatu, entah apakah berpikir apa itu arti miskin baju.

"Bun, ini tepungnya. Oya, kata Bunda tadi sekilo harganya Rp.9500? Ini beli 2 kilo kok cuma Rp.16.000?", tanyanya sambil menyerahkan tepung. "Emang kamu belinya dimana nak?" tanya Bunda. Gendis menjawab, "di warungnya Bu Warti". "Bu Warti yang di belakang komplek?", tanya Bunda lagi. "Iya Bundaku sayang, karena Gendis terakhir kali belanja bahan buat kue dulu, ya di warung itu. Jadi taunya beli tepung ya di situ itu. Kalo nggak salah waktu itu, Gendis masih kelas 2 SMU deh, Bun. Udah lama banget ya", lanjutnya. Gendis melihat beberapa saat Bundanya terdiam, sepertinya sedang berpikir. Tak lama Bundanya mulai mencampur bahan-bahan kue, sambil bertanya pada Gendis, "mbak nanti malam bisa temani Bunda keluar sebentar?." "Bunda mau kemana? Mobil di pakai Galih tuh dari tadi pagi sampe sekarang belum balik". "Kita jalan kaki aja mbak, dekat kok. Adikmu itu pamitnya tadi mau liburan sama teman-teman kampusnya ke luar kota. Malam mungkin pulangnya,"  jelas Bundanya. Galih adik perempuan Gendis. 21 tahun, dan termasuk kriteria most wanted ABG yang katanya harus 3B, Behel, BB, Bohay. Ckckckck. Dia sedang menikmati libur panjang setelah menempuh ujian akhir di kampusnya.

Tepat jam 7 malam, Gendis dan Bundanya sudah siap dengan kue di tangan dan beranjak keluar rumah, mereka berjalan kaki selama 15 menit. Di jalan Gendis sibuk dengan handphonenya, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana. "Assalamu'alaikum", kata Bunda. Gendis tersadar dan bertanya, "Loh Bun, ngapain ke rumah Bu Warti? Mau beli tepung lagi?". "Nanti saja ya Bunda ceritakan," jawab Bundanya. "Wa'alaikumsalam," jawab orang di dalam rumah. "Eh Bu Fiona, ada angin apa ini kok tiba-tiba datang ke gubuk saya? Mari Bu, silahkan masuk. Eh ada mbak Gendis juga, masuk mbak," sambil mempersilahkan masuk, Bu Warti membuka lebar-lebar pintu rumahnya. "Ini Bu, saya ada sedikit hasil eksperimen kue tadi sore," sambil Bunda menyerahkan bungkusan kue yang dibuatnya tadi. Setelah berbincang sekitar satu jam, Gendis dan Bundanya pamit pulang.

Di jalan Bunda bercerita pada Gendis bahwa Bu Warti itu dulu penolong keluarganya di saat Ayah Gendis di PHK dari pekerjaannya pada suatu perusahaan kontraktor besar. Hanya di warung Bu Warti lah Bunda selalu boleh membayar barang dengan setengah harga, dan melunasinya bulan berikutnya. Bu Warti tahu keadaan tersebut, karena suaminya pun dulu juga salah satu bawahan ayahnya dan terkena PHK juga. Kala itu Gendis masih berusia 11 tahun, dan Galih berusia 8 tahun. Belum paham benar tentang kehidupan para orang-orang tua. Dan ketika Ayah Gendis perlahan bangkit dengan sebuah perusahaan kontraktor yang dipimpinnya hingga sebesar sekarang ini, hampir sepuluh tahun lebih Bundanya itu tidak berbincang seakrab tadi dengan Bu Warti. Dan Gendis mulai memahami arti kehidupan.

 Thursday, 5th May 2011
23.55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar